Satu Meja, Dua Musafir, dan Sepiring Tandoori yang Bercerita Tentang Ibu
Serial Perjalanan Solo 18 Hari di Malaysia, Bagian #2: Napak Tilas Rasa di Melaka
Aku tiba di Bandara KLIA 2 pukul 08.05. Perjalanan soloku 18 hari di Malaysia akan dimulai sekarang. Rasanya, sedikit aneh. Biasanya aku jalan-jalan ke luar negeri bersama teman-temanku yang sehobi. Kini, aku melakukannya sendiri. Tanpa ragu…

Masih sedikit mengantuk, aku mengambil tas ransel cokelat usangku di kabin. Beratnya lebih dari 10 kilogram, melebihi batas aturan berat barang di kabin Air Asia. Tapi, tenang, aku sudah membayar tambahan bawaan kabin 7 kilogram senilai Rp 200 ribuan lewat aplikasi Air Asia. Ya… meskipun tidak dicek juga oleh petugas maskapainya. ckckck.
Udara Malaysia yang sudah beberapa kali aku hirup tetap saja membuatku deg-deg-an. Mungkin karena aku akan mulai petualanganku sendiri.
Aku berjalan menuju imigrasi. Paspor, bukti tiket pesawat pulang, itinerary hingga bukti booking hotel selama di Malaysia sudah siap di tangan. Semua aman. Ketiga dokumen itu penting disiapkan agar proses imigrasimu berjalan lancar.
Antrean imigrasi cukup panjang. Giliranku maju dan menyodorkan dokumen yang sudah kusiapkan tadi. Sedikit pertanyaan tentang tujuan kunjungan ke Malaysia 18 hari telah dilewati. Tidak rumit. Asal tujuannya jelas.
“Have a nice holiday,” petugas imigrasi itu mengakhiri percakapan kami dengan menstempel pasporku.
“Thank you,” aku menjawab dengan senyum semringah. Ternyata antusiasme itu bisa mengalahkan rasa lelahku selama ini.
Holiday is coming…. Hehe.. Dalam hatiku, dengan penuh harap, trip kali ini bisa mengubah hidupku dan memberikan makna yang dalam.

Perjalanan ini akan menjadi perenungan dua belas tahun perjalanan karierku sebagai jurnalis yang baru saja berakhir. Salah satu upaya menemukan ketenangan untuk bisa melangkah ke babak baru.
Tujuan pertamaku adalah Melaka. Tiket bus sudah kubeli melalui aplikasi easybook. (selengkapnya bisa lihat di Traveler’s Note). Aku tinggal menukar kode pemesanan dari aplikasi tersebut ke loket terminal bus yang lokasinya ada di lantai 1 KLIA2 untuk mendapatkan tiket fisik. Proses ini wajib dilakukan. Sebab, untuk bisa naik bus, kita harus scan barcode yang ada pada tiket bus. Petugas loket akan menagihmu 1 ringgit untuk pajak.
Setelah menukar bukti pemesanan dengan tiket bus, aku berjalan sangat lama menuju Gate A7. Ransel di punggungku jadi terasa lebih berat dari biasanya. Mungkin karena energiku yang terkuras atau mungkin beban tak kasat mata yang masih kubawa. Tapi, pada akhirnya aku sampai juga, menunggu bus yang akan mengantarku ke petualangan pertama.
Perjalanan Baru Dimulai
Bus tiba dengan gagahnya. Aku memasukkan ransel besarku di bagasi dan menenteng tas laptopku masuk ke dalam bus. Aku memilih kursi nomor 6C. Kursi tunggal yang sempurna untuk solo traveler sepertiku. Jadi, tidak perlu sungkan dengan penumpang di samping. Tentunya, bisa istirahat lebih lega.

Aku merasa nyaman dengan bus yang aku tumpangi. Kursi yang lega dan empuk. Bus besar itu hampir penuh. Sebagian wisatawan, sebagian penduduk lokal. Namun, kali ini, aku tidak punya tenaga untuk mengamati sekelilingku. Aku hanya menatap jendela kusam, dan membiarkan pikiranku melayang. Hingga sebuah percakapan dua laki-laki tua di kursi bagian belakang membangunkan lamunanku.
“Nggak opo-opo. Engko tekan kono onok sing ngajari (Tidak apa-apa, nanti sampai sana ada yang mengajari),” kata seorang laki-laki tua itu, seolah meyakinkan temannya.
Aku mendesah panjang. Kalimat itu terasa seperti pesan untukku. Sepertinya, perjalanan panjang ini akan memberiku banyak pelajaran dari orang-orang yang kutemui di jalan.
Bus melaju kencang, membelah jalan tol yang rapi, meninggalkan riuh bandara KLIA 2. Pemandangan di luar jendela berganti dari beton ke hamparan perkebunan kelapa sawit yang tak berujung. Monoton, tapi menenangkan. Ini semacam ruang jeda. Transisi dari badai kencang…. Ke petualangan di Melaka. Aku belum tahu apa yang akan kutemukan, tapi untuk kali pertamanya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar bergerak maju. Aku berharap, ini awal yang baik.

Dua jam berlalu, aku tiba di Terminal Bus Melaka Sentral. Kakiku melangkah menuju tempat pemberhentian transportasi umum dengan tujuan Jonker Street. Takdir mempertemukanku dengan Jenifer, seorang perempuan berkaus pink keturunan Tionghoa dari Surabaya. Dia duduk di kursi panjang dengan memegang koper berukuran sedang. Kami saling bertukar pandang.
“Dari Indonesia,” tanyaku pada Jenifer. “Iya, nih. Kamu juga?” jawabnya.
“Sama. Ini benar tempat tunggu bus ke Jonker Street?”
“Betul. Aku juga mau ke sana. Busnya belum datang, kita tunggu aja di sini.”
Aku menghela napas lega. Aku tidak ketinggalan bus. Akhirnya, bus dengan nomor A17 menuju Jonker Street tiba. Aku naik dengan ransel besar di punggungku dan mendekap tas kecil. Jenifer melihatku kerepotan mencari uang receh ringgit sambil menahan beban ransel. Sementara, penumpang lain mengantre di belakangku. Tanpa banyak bicara, dia membayar dua tiket sekaligus.

“Sudah. Ini tiketnya,” katanya sambil tersenyum.
“Wah, terimakasih. Aku ganti setelah duduk ya.”
“Nggak usah. Murah kok,” tolaknya halus.
Kami duduk di kursi yang saling berhadapan. Dari percakapan yang canggung hingga mengalir begitu saja, dan akhirnya kami memutuskan untuk makan siang bersama setelah tiba di Jonker Street. Yap, keputusan spontan itu membawa kami dalam keakraban. Dua musafir dengan tujuan yang berbeda, tapi saling memberikan makna.
Jenifer ternyata seorang kepala sekolah muda yang berprestasi di Surabaya. Kunjungannya di Malaysia untuk studi banding ke beberapa sekolah di Kuala Lumpur bersama beberapa kepala sekolah lain. Dia menambah hari libur untuk melakukan perjalanan ke Melaka seorang diri. Ya, sama seperti traveler lainnya, Jenifer juga suka mencari tenang di tempat-tempat baru. Kadang masih sambil menuntaskan pekerjaannya. Sedikit berbanding terbalik ya, Jenifer adalah perempuan muda dengan karir moncer dan berprestasi. Sementara aku, seorang perempuan yang baru saja “kehilangan” karier yang kucintai dan sedang mencoba merajut kembali sebuah babak baru.
Semangkuk Laksa, Bertukar Cerita
“Aku dengar laksa di sini luar biasa. Tapi, kita cari yang halal ya,” katanya.
Kami turun tepat di bangunan merah di Jonker Street. Lalu, berjalan menyusuri kedai-kedai di sepanjang Jonker Street. Tentu masih dengan beban yang kami bawa. Mata kami melihat ke kanan dan ke kiri jalan. Meski Jenifer nonmuslim, tapi dia menghargai aku sebagai Muslimah yang tidak bisa bebas makan. Dia beberapa kali memastikan kedai yang bertuliskan halal. Dan akhirnya, kami menemukan Kedai Famosa Kopitiam. Lokasinya tepat di sisi kanan jalan dari arah pintu gerbang utama Jonker Street.

“Halal food-halal food,” kata seorang pegawai menyambut kami.
Aku memesan menu teh tarik dan semangkuk Laksa Nyonya. Di Melaka, Laksa Nyonya adalah salah satu menu yang paling populer dan wajib dicoba bagi turis. Ada kedai Laksa Nyonya halal yang terkenal di Melaka. Namun, jaraknya cukup jauh. Jadi, kami memutuskan untuk makan siang laksa di kedai yang paling dekat dengan Jonker Street.
Udara terasa panas, suara piring beradu, dan aroma kuah kari yang kaya langsung menyergap indera. Semangkuk laksa akhirnya mendarat di hadapanku. Uapnya mengepul, membawa aroma santan, serai dan terasi yang khas.

Kami menikmati hidangan masing-masing, sambil bertukar cerita, tentang perjalanan hidup, karier yang tidak mudah dan mimpi-mimpi yang masih kami kejar.
Momen itu terasa ringan dan hidup. Inilah salah satu keajaiban perjalanan solo. Tuhan mempertemukan dua orang asing yang bisa langsung terhubung oleh rasa lapar dan rasa ingin tahu yang sama. Setelah mangkuk kami licin tandas, kami berpisah di persimpangan jalan, kembali ke penginapan masing-masing dengan janji untuk mungkin bertemu lagi.
Aku berjalan sendirian, memesan grab menuju hotel. Meski jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki, tapi rasanya aku sudah tidak mampu. Lelah sekali. Keriuhan tadi perlahan memudar, digantikan oleh keheningan.
Monolog di Bawah Lampu Kota
Malam tiba di Melaka. Lampu-lampu dari kafe dan rumah-rumah tua di sepanjang sungai mulai menyala, memantulkan cahayanya di air yang tenang. Aku berjalan tanpa tujuan, membiarkan kakiku membawaku menyusuri Lorong-lorong yang lebih sepi. Berbeda dengan siang tadi, malam ini aku adalah seorang pengamat, bukan partisipan. Aku menikmati peran baruku, menjadi bayangan yang menyerap setiap detail kota dalam diam.

Di tengah keheningan ruko di sepanjang jalan, aku melihat satu kedai kecil yang ramai pembeli. Namanya kedai Ng Guan Hai Yu Cha Kuih. Penjualnya sudah tua. Dia hanya menjual cakue. Harganya 1,6 ringgit.
“Two.” Kataku sambil menyodorkan kedua jariku ke depan sebagai isyarat. Sebab, sepanjang yang aku dengar, penjual dan pembeli yang datang sering menggunakan bahasa mandarin. Aku pun tak paham. Haha..

Cakue goreng berukuran jumbo sudah di tangan. Dimakan hangat-hangat. Penjualnya selalu membuat baru karena cakue selalu habis terjual. Cakue di toko ini dikenal legendaris, telah berdiri hampir satu abad. Hanya buka malam hari, pukul 19.30-22.00. Selain antre panjang, cakue-nya juga cepat habis. Aku beruntung karena antrean tidak begitu panjang. Mungkin karena aku datang di saat weekday.
Setelah sedikit mengganjal perut, aku berjalan menuju sebuah kedai sederhana di Taman Kota Laksamana, dekat Jonker Street. Masakan India. Tempatnya ramai oleh warga lokal, dengan kursi-kursi plastik di halaman ruko, beratapkan langit. Aroma daging panggang dari oven tanah liat besar begitu menggoda.

Seorang pegawai menghampiriku.
“Satu orang?”
“Iya, satu orang,” jawabku.
Aku memesan nasi Ayam Tandoori. Menu yang entah kenapa seperti memanggilku. Sepiring nasi dengan ayam panggang berwarna merah menyala diletakkan di mejaku. Kali ini, aku memakannya dengan nasi hangat. Aku tidak memesan roti naan sebagai menu pendamping pada umumnya, karena aku sendirian. Terlalu kenyang untuk makan malam.

Aku mencelupkan potongan ayam pada saus sambal hijau, lalu menyuapkannya bersama nasi hangat. Satu suapan dan seketika aku terlempar ke tahun 2019. Aku pernah duduk di sini, di meja yang berbeda, di restoran yang sama. Di seberangku, ada Ibu. Aku ingat betul bagaimana matanya berbinar saat mencoba Ayam Tandoori untuk kali pertamanya.
“Enak ya ternyata,” katanya, lantas tertawa. Ibu menyuap ayam Tandoori dengan irisan bawang India. Malam itu, kami berbicara tentang banyak hal, tentang mimpi-mimpiku yang saat itu terdengar mustahil.
Kini, di kedai yang sama, aku duduk sendirian. Tapi hatiku penuh sesak oleh kehangatan kenangan itu. Rasa rempah yang sama, di suasana yang berbeda. Air mataku nyaris jatuh, tapi kutahan dengan senyum. Ternyata, aku tidak pernah benar-benar sendirian. Kenangan adalah teman perjalanan yang paling setia.
Pagi Baru, Rasa Baru
Pagi yang tenang. Tanpa deadline. Aku menikmati tidur dengan nyenyak. Jendela kamarku langsung menghadap ke timur, menangkap matahari terbit yang sangat indah. Rasanya enggan meninggalkan kamar senyaman ini, luas dan fasilitas yang lengkap. Hotel berbintang 4 yang kuperoleh hanya dengan Rp 80 ribu per malam.

Sayangnya, hari ini aku harus check out dan melanjutkan ke perjalanan selanjutnya ke Kuala Lumpur. Sebelum pergi, aku akan mencari sarapan dengan suasana hati yang berbeda. Lebih tenang, lebih sadar. Pilihanku jatuh apda Asam Pedas, hidangan khas Melaka yang belum pernah kucoba sebelumnya.
Grab yang aku pesan tiba di lobi hotel. Pengemudi Grab yang kutumpangi asli orang Melaka. Dia bercerita bahwa Asam Pedas adalah makanan khas Melaka, tapi belum familiar di telinga banyak turis. Kebanyakan turis datang ke Melaka berburu Laksa dan Cendol. Mungkin karena rasa pedas yang dominan membuat sebagian turis kurang tertarik. Padahal, sedap betul.
“Sekarang banyak warung atau restoran jual Asam Pedas, viral sana-sini. Tapi, rasanya tak semua sama, Dik. Kalau pelancong, mungkin rasa sedap saja sudah cukup. Tapi, orang Melaka asli tahu mana yang betul-betul orisinal,” katanya dengan khas bahasa Melayu.
Aku mendengarkannya dengan penuh minat.
“Kalau betul nak rasa yang asli, pergilah ke warung-warung kampung. Masakan orang kampung lain rasanya. Banyak pendatang yang buka kedai, sedap juga, tapi bukan rasa Melaka yang sebenar.” Dia menjelaskan dengan semangat.

Tujuanku kuliner kali ini ke Asam Pedas Lauk Kampung Melaka. Meski bukan tempat yang dimaksud pengemudi Grab tadi, kedai ini sangat ramai pengunjung. Apalagi pada jam makan siang. Kebanyakan warga lokal. Aku sarapan di tengah keramaian warga lokal.
Aku memesan ikan Jenaha (sejenis ikan kakap) yang dimasak Asam Pedas dengan cah tauge. Rasanya tajam, pedas, asam dan sangat segar. Berbeda dengan Nasi Tandoori semalam yang hangat dan penuh nostalgia. Rasa ini tidak membawaku ke masa lalu. Masakan ini justru menarikku kuat-kuat ke masa kini. Ke kursi ini, di kedai ini, pada pagi ini. Ini adalah rasa yang baru. Sebuah memori baru yang sedang kubangun untuk diriku sendiri.
Aku menyadari inilah dualitas indah dari perjalanan solo. Ada hari untuk berbagi tawa dengan teman baru di atas semangkuk laksa. Ada malam untuk berdialog dengan kenangan lama di atas sepiring Tandoori. Dan ada pagi untuk menyambut rasa yang baru, sebagai tanda bahwa perjalanan ini dan hidup ini terus bergerak maju.
(Jika ingin tahu bagaimana Awal Perjalanan Solo ini dimulai, klik di sini. Dan baca lebih lanjut Manifesto Babak Baru di sini)
Traveler’s Note
Panduan Praktis & Super Detail Perjalanan di Melaka
KLIA2 ke Melaka
- Bus: Transnasional
- Harga: ~Rp 130.000
- Tiket: Online via easybus / di loket (non-tunai).
- Proses: Tukar booking, bayar pajak ~1-2 Ringgit (tunai).
- Info: Gate A7, ~2 jam perjalanan.
Akomodasi & Transport
- Hotel: Menginap di Hotel Tamara, Melaka (promo ~Rp 80rb-an!).
- Pesan: Saya pakai Agoda. Aktifkan notifikasi harga & cek promo *flash sale*.
- Transport Lokal: Grab sangat direkomendasikan. Bus publik No. 17 juga tersedia.
Tips Solo Traveler
- Imigrasi: Untuk perjalanan >7 hari, selalu siapkan bukti tiket pulang & booking hotel.
- Interaksi: Jangan ragu memulai obrolan dengan warga lokal, mereka adalah sumber info terbaik!
Jelajah Kuliner
Laksa Nyonya
Tempat: Kedai Famosa Kopitiam (area Jonker Street). Soal rasa kembali ke selera masing-masing.
Rekomendasi Penulis: Coba Atlantic Nyonya (Jalan Merdeka) yang terkenal halal & enak.
Nasi Ayam Tandoori
Tempat: Pak Putra Restaurant. Otentik untuk makan malam.
Alamat: 56&58, Jln 4, Tmn Kota Laksamana.
Penulis memesan Nasi Ayam Tandoori & Roti Naan (direkomendasikan!).
Cakue Jumbo
Tempat: Kedai Ng Guan Hai Yu Cha Kuih. Legendaris & sering antre!
Alamat: 120, Jln Munshi Abdullah.
Rasa enak dan gurih (direkomendasikan penulis).
Asam Pedas
Tempat: Asam Pedas Lauk Kampung Melaka. Rasa otentik di luar pusat turis.
Alamat: Jln PM2 Plaza Mahkota.
Penulis memesan Ikan Jenahak & cah tauge (sangat direkomendasikan!).
Suka dengan Cerita Ini?
onedayoff.id adalah sebuah proyek dari hati. Ini adalah caraku untuk berbagi bahwa setiap perjalanan, sekecil apa pun, memiliki makna.
Jika cerita-cerita saya pernah menemanimu, memberimu inspirasi, atau sekadar membuatmu tersenyum, kamu bisa menjadi bagian dari perjalanan ini dengan mentraktirku secangkir kopi agar blog ini terus berkembang.
