Tujuh Kilo di Punggung dan Beban Tak Kasat Mata di Hati
Serial perjalanan Solo 18 Hari di Malaysia, Bagian #1: Prolog Keberangkatan
Pukul setengah tiga pagi di Bandara Soekarno Hatta, hanya ada aku dan beberapa orang saja. Sepi sekali. Aku mendengar dengung samar pendingin ruangan dan beberapa percakapan ringan dari orang yang ada di sebelahku. Lantaran hanya membawa ransel besar di punggung dan satu tas laptop, aku langsung melenggang menuju proses imigrasi karena check in sudah dilakukan by online di aplikasi Air Asia.

Aku membawa perasaan yang campur aduk. Rasa cemas akan masa depan sekaligus perasaan lega dan semangat untuk menghadapi babak baru. Ini adalah perjalanan pertamaku setelah aku tidak lagi membawa identitas jurnalis lagi.

Di layar monitor, tulisan “Kuala Lumpur” menyala. Ini saatnya aku pergi untuk kesekian kalinya ke Malaysia. Aku meletakkan ranselku di kursi tunggu sebagai sandaran punggungku dan memeluk ransel kecil berisi laptop. Kedua tas ini akan menemaniku selama 18 hari ke depan di Malaysia. Sendirian…

Sebagai budak korporat yang baru saja melepaskan tali kekang, perjalanan ini terasa seperti sebuah kemewahan yang “aneh”. Kemewahan untuk pergi tanpa tujuan selain satu hal, yaitu menemukan kembali diriku yang sudah lama tergerus deadline.
“Kenapa Malaysia?” temanku bertanya kepadaku. Jujur, ini bukan pilihan pertama. Sebelumnya, ada Vietnam dalam daftar perjalanan soloku. Negara tersebut memberikan kenangan cukup dalam bagiku saat perjalanan tahun 2015 dan 2023. Banyak tempat indah yang membuatku ingin terus kembali ke negara komunis itu. Namun, sayang sekali, cerita perjalanan itu tidak sempat kutulis. Huhu.
Perjalanan soloku kali ini tidak butuh petualangan yang menantang. Aku hanya butuh sebuah tempat yang terasa familiar, sebuah “rumah” sementara yang ramah untuk seorang perempuan yang berpergian tanpa rencana matang. Ya, Malaysia adalah jawaban yang paling menenangkan.

Pandanganku mengarah ke sekeliling bandara, mencari sosok traveler lain yang biasanya berbagi energi petualangan yang sama di jam-jam seperti ini. Nihil. Aku hanya melihat wajah-wajah calon pekerja, dengan koper besar yang seolah membawa seluruh hidup mereka. Sekilas, aku terhubung. Mereka berangkat untuk memulai hidup baru, sementara aku berangkat untuk menata ulang hidup yang lama.
Ah, rasanya jadi sedikit melankolis. Mungkin karena dulu, keberangkatan seperti ini selalu untuk tugas liputan, selalu ada teman menunggu. Kini, aku berangkat bukan untuk bekerja, bukan pula untuk cuti. Aku berangkat sebagai seorang “pengangguran” baru yang sedang mencari tenang. Status yang terdengar mengerikan sekaligus membebaskan.
Panggilan untuk penerbangan Air Asia menuju Kuala Lumpur pukul 05.00 akhirnya terdengar, memecah lamunanku. Aku langsung menyambar ransel tujuh kilo yang kini terasa jauh lebih berat di punggung yang tak lagi sekuat dulu, dan juga tas laptopku.

Ada sedikit rasa deg-deg-an saat berjalan menuju gerbang, bukan karena takut terbang, tapi karena peraturan bagasi kabin Air Asia yang kini terkenal lebih ketat. Selain itu, aku rasa beban ranselku lebih dari tujuh kilo. Haha…
Namun, rasa cemas itu sirna, tergantikan oleh sebuah kesadaran. Tujuh kilo di punggung dan beban tak kasat mata di hati. Keduanya akan kubawa dalam perjalanan ini.
Mari kita mulai.
(Kamu bisa baca kisah selanjutnya di artikel: Kisah Nasi Tandoori & Ibu, dan baca lebih lanjut Manifesto Babak Baru di sini)
