Halaman Pertama dari Babak Kedua
Selama dua belas tahun, hidupku adalah tentang deadline yang sering merusak jam tidur, dering telepon dari narasumber di tengah malam, dan adrenalin saat sebuah berita eksklusif berhasil diterbitkan. Aku mencintai pekerjaan itu dengan sepenuh hati. Pekerjaan itu sekaligus memberiku identitas, tujuan dan sebuah kursi di barisan terdepan untuk menyaksikan dunia. Aku pikir, itulah satu-satunya yang akan pernah kutulis.
Lalu… Dalam sekejap, cerita itu berakhir.

Satu babak ditutup paksa, memberiku sesuatu yang sudah lama tidak aku punya. Yaitu, keheningan dan halaman kosong. Di tengah keheningan itulah, aku mulai mendengar kembali sebuah bisikan yang sudah lama terkubur di bawah tumpukan kartu pers dan jadwal liputan. Bisikan tentang mimpi-mimpi lamaku. Tentang memiliki sebuah karya novel fiksi yang draft-nya tersimpan di folder usang bertahun-tahun. Tentang kamera miroles yang lebih sering kugunakan untuk pekerjaan daripada untuk kesenangan pribadi. Tentang keinginan untuk melakukan perjalanan tanpa harus menulis laporan setelahnya.
Aku sadar bahwa selama ini aku begitu sibuk menceritakan kisah orang lain hingga aku lupa cara menceritakan kisahku sendiri.
Itu sebabnya, aku memutuskan sesuatu yang bagi sebagian mungkin terlihat gila. Di saat seharusnya aku sibuk memperbarui CV dan mengirim lamaran, aku justru mengemasi ransel. Aku bukannya kabur. Aku justru sedang pulang. Ya, pulang pada dua hal yang kali pertama membuatku jatuh cinta pada kata-kata dan dunia. Menulis dan melakukan perjalanan.

Rumah Baru Bernama onedayoff.id
Inilah onedayoff.id.
Aku membuat blog ini sudah lama. Namun, blog yang sudah aku rencanakan untuk menjadi rumah baru terbengkalai seperti ruang kosong. Tidak tersentuh sama sekali. Setelah melewati masa-masa sulit yang menguras energi, aku sadar bahwa aku tidak perlu mencari validasi dari luar. Kini, aku hanya ingin fokus berkarya.
Eits, tunggu dulu. Ini bukan blog tentang pelarian. Bukan pula tempat aku bersembunyi selama delapan bulan terakhir. Ini adalah bengkel kerjaku. Sebuah ruang di mana aku akan merangkai kembali kepingan-kepingan diriku. Di sini, aku akan berbagi cerita dari perjalanan-perjalananku. Tenang… Ini bukan hanya sebagai panduan, tetapi sebagai jurnal penemuan. Lewat blog ini, aku akan kembali ke proses kreatif yang paling jujur, membangun dunia fiksi untuk novel pertamaku (bismillah ya) dan sedang belajar kembali menerjemahkan rasa ke dalam visual melalui sosial media. Ya, meski tidak mudah bagiku untuk bisa terjun di dunia digital. Namun, tidak ada salahnya semua aktivitas yang aku cintai kembali aku lakukan.

Sebuah Perjalanan yang Jujur
Apakah aku takut? Tentu saja. Aku menukar kepastian gaji bulanan dengan ketidakpastian yang menakutkan. Aku tahu, kebutuhan finansial tidak bisa dibayar dengan inspirasi. Realitas finansial itu adalah nyata. Dan itulah mengapa aku juga tetap membuka diri untuk pekerjaan lepas (freelance) dan remote yang sejalan dengan keahlianku sebagai penulis dan pencerita maupun sebagai konsultan perjalanan.
Tapi, aku percaya pada satu hal. Investasi terbaik yang bisa kulakukan saat ini bukanlah pada saham atau properti, melainkan pada mimpi yang sudah terlalu lama kutunda. Aku percaya, dengan kembali pada apa yang membuat jiwaku hidup, pintu-pintu rezeki yang baru akan terbuka.
Ini adalah babak keduaku. Aku tidak tahu akan berakhir seperti apa, tapi aku berjanji perjalananku akan jujur, penuh refleksi dan semoga bisa memberimu secercah energi baru untuk memulai perjalananmu sendiri.
Selamat datang di halaman pertamaku. Mari kita tulis sisanya bersama. (Jika ingin tahu bagaimana Awal Perjalanan Solo ini dimulai, klik di sini. Dan baca lebih lanjut kisah Ayam Tandoori dan Ibu di sini)
Salam hangat,
Septinda Ayu Pramitasari
Suka dengan Cerita Ini?
onedayoff.id adalah sebuah proyek dari hati. Ini adalah caraku untuk berbagi bahwa setiap perjalanan, sekecil apa pun, memiliki makna.
Jika cerita-cerita saya pernah menemanimu, memberimu inspirasi, atau sekadar membuatmu tersenyum, kamu bisa menjadi bagian dari perjalanan ini dengan mentraktirku secangkir kopi agar blog ini terus berkembang.
